Pages

Monday, January 25, 2021

Pembiayaan SDGs

Kekurangan Pembiayaan SDGs Capai US$3 Triliun per Tahun

Tiap tahun, kekurangan pembiayaan untuk pembangunan dalam rangka mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) mencapai US$3 triliun. 

Khusus Indonesia, kekurangan pembiayaan dalam rangka memenuhi kebutuhan infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan sesuai yang diamanatkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024 hingga saat ini mencapai Rp1.460 triliun.

Secara lebih rinci, pembiayaan yang dibutuhkan hingga 2024 mencapai Rp14.500 triliun dengan pembiayaan melalui APBN mencapai Rp6.750 triliun dan dari sektor privat mencapai Rp6.290 triliun.

Impact investment atau investasi berkelanjutan sangat potensial untuk diterapkan di Indonesia. Hal ini karena Indonesia memiliki pasar yang potensial serta hukum yang mendukung investasi seperti UU No. 25/2007 tentang Penanaman Modal dan UU No. 20/2008 tentang UMKM.

Lebih lanjut, Indonesia juga memiliki peluang untuk menerapkan islamic finance atau pembiayaan syariah karena zakat di Indonesia sendiri mencapai 4% dari PDB.

Meski demikian, masih terdapat 70% dari keseluruhan UMKM yang terhambat untuk mengakses fasilitas pembiayaan sehingga menghambat pertumbuhan penghasilan dari UMKM terkait.

Oleh karena itu, United Nation Development Programme (UNDP) memandang besarnya kemungkinan untuk memadupadankan Impact Investment dengan Islamic Finance dalam rangka mencapai target SDGs pada 2030.

"Sekarang ada 700 juta orang yang masih di bawah garis kemiskinan. Kita mencari instrumen apa yang bisa digunakan untuk memenuhi kekurangan pembiayaan tersebut," ujar Senior Advisor for Innovative Financing UNDP Joanne Manda, Rabu (24/7/2019).


Sumber :

https://ekonomi.bisnis.com/read/20190724/9/1128143/kekurangan-pembiayaan-sdgs-capai-us3-triliun-per-tahun

Thursday, January 14, 2021

Banyuwangi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin

Banyuwangi Bangun Pembangkit Listrik Tenaga Angin 50 MW

Kamis, 14 Jan 2021 19:46 WIB

Tak lama lagi, Indonesia akan resmi mengoperasikan pemanfaatan energi terbarukan pembangkit listrik tenaga bayu (PLTB). Seperti apa penampakannya?

Banyuwangi - Kabupaten Banyuwangi akan memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB) alias tenaga angin. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui salah satu anak usahanya, yaitu PT Indonesia power, memilih pembangunan PLTB di Banyuwangi karena menilai potensi angin memenuhi syarat untuk pengembangan PLTB.

Pihak Pemkab Banyuwangi dan PT Indonesia Power telah bertemu untuk mematangkan rencana tersebut secara virtual pada Kamis (14/1/2021). Pertemuan ini merupakan kelanjutan dan rencana PLN mengembangkan PLTB di Banyuwangi yang telah disampaikan sejak 2020, sebelum pandemi datang. Hadir dalam pertemuan tersebut Vice President Project Development 3 PT Indonesia Power Henry Asdayoka Putra dan Manager Business Development 1 Adi Hirlan Effendi, Bupati Abdullah Azwar Anas dan jajarannya.

Henry Asdayoka Putra mengatakan, PLTB yang akan dibangun di Banyuwangi tersebut merupakan bagian dari pengembangan proyek energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia.

"PLTB ini diharapkann bisa semakin mengurangi penggunaan energi fossil dan emisi karbon monoksida. Ini merupakan program pemerintah untuk mencapai bauran energi listrik yang ramah lingkungan sebesar 23 persen di 2025," ujar Henry.

Henry melanjutkan, pembangunan PLTB akan dimulai pada 2021. PLTB tersebut berkapasitas 50 MW.

"Pengembangan PLTB berskala besar di Banyuwangi ini insyaallah yang pertama di Pulau Jawa. Untuk itu kami meminta dukungan dari Pemkab Banyuwangi agar kami bisa segera memberikan kontribusi bagi Indonesia dan khususnya bagi Banyuwangi," ujar Henry.

"Selain sebagai proyek energi, PLTB ini nantinya juga akan menjadi ikon baru bagi daerah yang bakal mendukung sektor pariwisata," imbuhnya.


Satgas Banyuwangi Susun Kebijakan Baru Cegah Penularan COVID-19

Manager Business Development 1 Adi Hirlan Effendi mengatakan, Banyuwangi dipilih karena memiliki angin yang sangat potensial, khususnya di wilayah Kecamatan Wongsorejo yang memiliki kecepatan angin 6,7 meter/detik.

"Sebelum menentukan lokasi, kami melakukan studi potensi angin di Indonesia. Setelah kami bandingkan hasil dari beberapa daerah, ternyata di Wongsorejo paling potensial kecepatan anginnya," terang Adi.

"Bahkan kecepatan angin rata-rata sementara dari pemasangan alat kami yaitu metmast tower setinggi 120 meter di Wongsorejo menunjukkan angka 8,3 meter/detik. Sangat bagus. Kami melakukan estimasi, apabila satu turbin menghasilkan 4,2 MW, maka dalam setahun PLTB bisa memproduksi listik sebesar 170,3 GWh " imbuhnya.

Sementara itu Bupati Anas menyambut baik rencana pembangunan PLTB tersebut di daerah. "Tadi kami koordinasikan, bahwa selain PLTB, itu nantinya menjadi menjadi pusat edukasi tentang energi baru terbarukan bagi generasi muda, sehingga kesadaran menggunakan energi baru terbarukan semakin tinggi," ujar Anas.

Anas juga menekankan agar PLTB tersebut dikembangkan dengan tidak meninggalkan unsur kearifan lokal yang menjadi identitas daerah.

"Seperti yang telah dilakukan Banyuwangi selama 10 tahu terakhir, setiap pembangunan harus menyertakan unsur kearifan lokal, termasuk dalam arsitekturnya. Ini adalah upaya kami menitipkan peradaban daerah, khususnya budaya lokal, ke dalam perkembangan ekonomi," jelas Anas.


Sumber :

https://finance.detik.com/energi/d-5334428/banyuwangi-bangun-pembangkit-listrik-tenaga-angin-50-mw

Sustainable Development in Indonesia

Sustainable development crucial in Indonesia’s COVID-19 recovery, experts say 

May 29, 2020

The Sustainable Development Goals (SDGs) (United Nations/File) SHARES With the COVID-19 pandemic having challenged sustainable development in many parts of the world, it is necessary to use the United Nations’ Sustainable Development Goals (SDGs) as the baseline for the country’s outbreak recovery efforts, a recent discussion has suggested. 

During a virtual discussion on Thursday, the Foreign Ministry’s director for development, the economy and the environment, Agustaviano Sofjan, said the pandemic had set countries back in terms of achieving by 2030 the 17 economic, social and environmental goals stipulated in the SDGs. 

The pandemic, he said, disrupted stability and growth in supply and demand, as well as people’s livelihoods. Moreover, the coronavirus disease posed great risks to women, children, elders and informal workers. “On the other hand, the pandemic has had a positive impact on the environment due to the reduction of economic activities. 

However, this is just temporary,” Agustaviano said on Thursday as quoted by Antara news agency. Dyah Roro Esti Widya Putri, a lawmaker from the House of Representatives Commission VII on energy affairs, argued that environmental challenges would emerge after COVID-19-related restrictions are lifted. 

“After the outbreak ends, the demand for energy will drastically increase. Indonesia should begin to roll out its plan on sustainable development,” the lawmaker said during the discussion. Agus echoed the statement, saying the end of the COVID-19 crisis should be a chance for Indonesia to do better in implementing the SDGs. 

He cited the government’s plan to introduce the so-called “new normal” policy as a way to realize the vision of sustainability. United Nations Development Programme (UNDP) Indonesia country director Christophe Bahuet emphasized the importance of the SDGs as the baseline for Indonesia’s COVID-19 recovery. 

Bahuet said the new normal policy should not diminish the urgency of putting forward the SDGs. “The pandemic and the ‘new normal’ should make the SDGs more important,” he said. He advised Indonesia against returning to business as usual upon recovering from COVID-19. Arranging policies toward a “green recovery” might be the best way to restart development in Indonesia, Bahuet said.


Sumber :

https://www.thejakartapost.com/news/2020/05/29/sustainable-development-crucial-in-indonesias-covid-19-recovery-experts-say.html.

Wednesday, January 6, 2021

Kantong Plastik dari Kentang

Mahasiswa ITS Ciptakan Kantong Plastik dari Kentang 

02/01/2021

Masa pandemi Covid-19 mengubah pola hidup masyarakat,  akhirnya menyebabkan adanya peningkatan konsumsi sejumlah produk yang menggunakan kantong plastik sintetis. Guna mengatasi permasalahan ini, seorang mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember ( ITS) menciptakan plastik dari bahan kentang yang dapat dijadikan pakan ternak dan pupuk, serta mudah terurai oleh tanah. 

Mahasiswa yang menciptakan itu bernama Hamdan Kafi Magfuri. Dia adalah mahasiswa Departemen Teknik Material dan Metalurgi ITS. "Lama kelamaan sampah kantong plastik ini akan berdampak buruk pada lingkungan," kata Hamdan, melansir laman ITS, Sabtu (2/1/2020). 

Dia mengaku, lewat inovasi ini akan mengurangi atau bahkan menghilangkan dampak buruk dari kantong plastik yang selama ini beredar di masyarakat. Sebab, plastik merupakan material yang sangat sulit terurai oleh tanah, bahkan plastik baru bisa diurai kembali dalam ratusan hingga ribuan tahun. 

"Dengan demikian, ide utama yang harus diangkat adalah plastik yang mudah terurai dan memiliki manfaat lain selain menjadi sampah," ucap pria asal Lumajang ini. Hamdan memilih kentang, karena bahan dasar tersebut sangat melimpah di Indonesia. Pemilihan ini, dia berharap bisa meningkatkan pendapatan petani kentang. 

"Saat ini pendapatan petani kentang di Indonesia terbilang rendah, karena ada perbedaan harga yang berbeda, antara harga jual petani dengan harga yang dijual di pasar," ucap Hamdan. Pembuatan plastik cukup mudah Adapun cara plastik dari bahan kentang ini terbilang mudah. 

Hal pertama, kentang yang tidak lolos dijual di pasar, maka akan digiling dan diperas sari patinya. Kemudian, sari pati ini diendapkan selama beberapa hari hingga menghasilkan endapan tepung. Endapan ini kemudian dicampur dengan platicizer dan kitosan. 

"Campuran ini kemudian diendapkan, dicetak pada cetakan lembaran, serta dipanaskan pada suhu 120 derajat celcius selama 30-90 menit," tutur dia. Plasticizer didapat dari glisoerol dan asam asetat, berfungsi untuk mendapatkan sifat plastik, yaitu untuk memadatkan adonan. 

"Sedangkan kitosan didapat dari tepung kulit udang dan cangkang kepiting, berfungsi untuk menaikkan sifat mekanik plastik agar memiliki daya menahan beban," sebutnya. Plastik berbahan dasar kentang ini, sambung Hamdan, memiliki karakteristik yang baik. 

Dari segi kekuatan tarik saja, plastik ini berkekuatan 28 MPa, di atas standar SNI yang sebesar 27 MPa. Sedangkan dari kemampuan tahan air, plastik ini memiliki kemampuan yang sama dengan plastik pada umumnya. 

"Plastik ini tidak mengeluarkan zat karbon seperti plastik pada umumnya, sehingga aman untuk makanan," ucapnya. Paling terpenting, dia menegaskan, sampah plastik kenting ini bisa terurai dalam waktu 28 hari di dalam tanah. Baca juga: Menkes Budi Gunadi Terpilih Jadi Anggota MWA ITS "Harapannya manfaat plastik ramah lingkungan ini dapat dirasakan banyak pihak," harap Hamdan.


Sumber :

https://www.kompas.com/edu/read/2021/01/02/150026471/mahasiswa-its-ciptakan-kantong-plastik-dari-kentang?page=all.

Thursday, December 24, 2020

Bioeconomy Model untuk Indonesia

Ketika Eropa mentargetkan bioeconomy-nya bisa menggerakkan ekonomi sebesar € 2 trilyun (34.000 trilyun rupiah atau 17 kali APBN Indonesia) dengan menyerap 20 juta tenaga kerja dan lebih khususnya Belanda yang luasnya kurang lebih seukuran Jawa Timur mentargetkan € 2,6-3 milyar (sekitar 50 trilyun rupiah) dengan bioeconomy-nya, Indonesia sebagai negara tropis, tanah yang luas dan subur seharusnya bisa mendongkrak ekonominya juga dengan bioeconomy. 

Pendekatan dan model bioeconomy yang dikembangkan Indonesia bisa saja berbeda dengan yang dilakukan di Eropa dan di Belanda, karena potensi alamnya dan karakteristik penduduknya juga tidak sama. 

Dengan penduduk mayoritas muslim sudah seharusnya Indonesia mengembangkan banyak model-model bioeconomy yang sejalan dengan nilai Islam. Hal ini karena bioeconomy juga akan terkait terkait masalah pangan dan sandang yang dalam Islam sangat jelas terkait dengan masalah halal haram. Bukan hanya itu tentu model tersebut juga dioptimasi sehingga bisa semaksimal mungkin membawa kemakmuran umat dan memberi solusi pada sejumlah masalah besar yang dihadapi. 

Ekonomi Islam yang belum menjadi mainstream di negeri mayoritas Islam adalah salah satu masalah besar tersebut. Dengan banyak melakukan syirkah dan wakaf sejumlah peluang-peluang besar dalam era bioeconomy bisa dengan mudah ditangkap dan dioptimalkan.

Dengan iklim tropis, tanah luas, subur dan curah hujan tinggi, pengembangan kebun energi untuk produksi wood pellet, peternakan domba, peternakan lebah madu dan produksi arang dengan pyrolysis adalah salah satu model bioeconomy yang bisa dikembangkan. 

Pyrolysis selain menghasilkan arang juga menghasilkan syngas yang bisa dikonversi menjadi listrik. Listrik berguna untuk menjalankan unit pyrolysis tersebut dan juga produksi wood pelletnya. Limbah pabrik sawit seperti tandan kosong kelapa sawit maupun limbah perkebunan kelapa sawit yakni pelepah bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. 

Sampah kota juga bisa dijadikan bahan baku untuk pirolisis tersebut. Jika tidak maka sejumlah atau sebagian kayu dari panen kebun energi bisa digunakan untuk bahan baku pyrolysis tersebut. Produk lainnya dari pyrolysis yakni arang, biooil dan pyroligneous acid (liquid smoke). 

Semua produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan bisa diupgrade untuk menjadi sejumlah produk turunan. Seberapa panjang mata rantai industri juga tergantung dari keekonomian industri tersebut. Semakin panjang rantai industri semestinya akan memberi nilai tambah semakin besar dan kontribusi yang besar juga pada bioeconomy. 

Bagaimana bisa merealisasikan bioeconomy model di atas? Tentu pekerjaan besar untuk merealisasikan bioeconmy model tersebut karena mengintegrasikan beberapa unit sehingga menjadi siklus tertutup. Entry point bisa dimulai dari salah satu unit bisnis yang lebih mudah dilakukan. 

Penggembalaan domba atau Penggembalaan domba dan sapi (mixed grazing) bisa jadi entry point termudah, karena bagi umat Islam juga mendukung untuk penegakan syar'i at Islam, yakni syar'i at qurban setiap 10 Dzulhijah. 

Selain itu juga berarti akan meningkatkan produksi daging dalam negeri. Penggembalaan rotasi (rotation grazing) adalah pola penggembalaan yang efektif dan efisien, apalagi dibandingkan pola penggembalaan tradisional, yakni penggembalaan kontinyu (continous grazing).  

Setelah penggembalaan tersebut, selanjutnya diikuti dengan produksi wood pellet dari kebun energi, yang limbah daun-daunnya yang juga kaya kandungan protein juga akan sebagai pakan tambahan bagi hewan-hewan ternak tersebut. Kotoran ternak dari kandangnya bisa digunakan untuk pupuk di kebun energi, sedangkan padang penggembalaan sendiri telah mendapatkan pupuk sewaktu penggembalaan dilakukan di area tersebut. 

Terakhir yakni mengintegrasikan unit pyrolysis yang tujuan utamanya untuk produksi listrik untuk mencukupi operasinal pabrik wood pellet. Mata rantai industri bisa dikembangkan lebih panjang dengan menggunakan bahan baku (feedstock) dari hasil samping proses pyrolysis tersebut. 

Ketika model ini bisa dibuat dan terbukti memberi keuntungan dan manfaat yang besar, maka selanjutnya model tersebut tinggal diperbanyak dan diperbesar. Ketika hand phone layar sentuh pertama kali dikenalkan maka banyak pihak yang skeptis dan mencemooh konsep tersebut untuk bisa digunakan secara masal, tetapi hari ini sebagian besar hand phone dan gadget menggunakan layar sentuh untuk mengoperasikannya. 

Orang-orang baru tertarik dan berbondong-bondong menjadi follower ketika telah melihat bukti. Tetapi siapa yang mau menjadi pioneer dan memberi bukti kepada orang-orang itu? Tentu bukan orang sembarangan dan hanya sangat sedikit orang yang mau dan mampu melakukannya. Steve Jobs, menunjukkan bahwa handphone layar sentuh Apple bisa handal digunakan dan memberi bukti bagi orang-orang. Ungkapan Steve Jobs yang terkenal yakni

“ People do not know what they want until you show it to them – masyarakat tidak tahu apa yang mereka inginkan sampai Anda tunjukkan kepada mereka !”.

Contoh di dunia perkebunan akan lebih dekat dengan bioeconomy model. Ketika Belanda membawa empat biji sawit lalu tumbuh menjadi pohon sawit lalu dibuatlah perkebunan kecil, lalu semakin luas karena banyak ditiru dan dikembangkan ke banyak tempat. Kondisi tersebut terjadi karena usaha tersebut bisa membuktikan memberi keuntungan menarik. 

Demikian juga dengan pengembangan bioeconomy. Semakin terbukti memberi keuntungan dan manfaat lebih baik, tentu semakin menarik untuk diterapkan dan dikembangkan ke banyak lokasi, bahkan tidak hanya di Indonesia saja tetapi bisa juga di Malaysia dan khususnya negara-negara muslim lainnya. 


Sumber :

http://inovasibiomasa.blogspot.com/2018/04/bioeconomy-model-untuk-indonesia.html

Bioeconomy in the Circular Economy

Bukan Messi, Ronaldo, Neymar! Mathieu Flamini Pesepakbola Terkaya di Bumi

Lionel Messi, Cristiano Ronaldo, atau Neymar da Silva Santos Junior boleh saja menjadi pesepakbola dengan bayaran terbesar di dunia. Tapi, mereka bukanlah yang terkaya. Predikat itu justru menjadi milik Mathieu Flamini. Kok bisa?

Flamini baru saja pensiun sebagai pemain pada 2019 setelah membela Getafe sepanjang musim 2018/2019. Getafe menjadi klub kelima gelandang berkebangsaan Prancis tersebut sepanjang karier profesional.

Tapi, selama ini orang lebih mengenal Flamini sebagai salah satu legenda Arsenal. Flamini bergabung dengan Arsenal pada 23 Juli 2004. The Gunners membayar Olympique Marseille 480.000 euro dan segera setelahnya menjalani debut pada 15 Agustus 2004 melawan Everton.

Selama bermain untuk The Gunners, Flamini dikenal sebagai tandem sehati Cesc Fabregas di lini tengah. Dia adalah orang yang membuat Gilberto Silva terlempar dari starting line-up. Flamini juga membantu Arsenal menjuarai Piala FA (2004/2005, 2013/2014, 2014/2015), Community Shield (2014), serta runner-up Liga Champions (2005/2006).

"Arsenal ada di hati saya dan mereka (fans) akan ada di hati saya selamanya. Saya akan selalu menjadi penggemar Arsenal dan pergi itu tidak mudah," kata Flamini, dilansir Sky Sports, saat meninggalkan Arsenal menuju AC Milan pada musim panas 2008.

Lima tahun di Milan, Flamini juga menjadi pemain penting di lini tengah. Dia bermain ketika I Rossoneri diperkuat David Beckham dan Filippo Inzaghi. Hasilnya, Flamini membantu Milan mendapatkan Scudetto 2010/2011.

Meski hanya mendapatkan 1 piala, keputusan bermain di Milan mengubah peruntungan Flamini seumur hidup. Di Italia, dia bertemu Pasquale Granata. Bekerjasama dengan University of Pisa, Granata dan Flamini mendirikan GF Biochemicals pada 2008. Nama perusahaan itu diambil dari "Granata" dan "Flamini".

"Saat itu, dia (Pasquale Granata) sudah tertarik dengan masalah perubahan iklim dan kami sangat ingin melakukan sesuatu. Jadi, setelah bertemu dengan seorang ilmuwan, kami bersama-sama mengembangkan bioteknologi ini," kata Flamini ketika berbicara dengan BBC pada 2016.

Apa GF Biochemicals? Itu adalah perusahaan biokimia. Mereka adalah organisasi pertama di dunia yang mampu memproduksi Asam Levulinat secara massal. Asam Levulinat atau yang dikenal sebagai 4-oxopentanoic adalah senyawa organik dengan rumus kimia CH3C(O)CH2CH2CO2H.

Asam Levulinat diklasifikasikan sebagai asam keto. Padatan kristal putih ini larut dalam air dan pelarut organik polar. Ini berasal dari degradasi selulosa dan merupakan prekursor potensial untuk biofuel, seperti etil levulinat. Senyawa ini pertama kali dibuat oleh ahli kimia Belanda, Gerardus Johannes Mulder, dengan memanaskan fruktosa dan asam klorida. Tapi,  Asam Levulinat belum mencapai penggunaan komersial dalam volume yang signifikan.

Produksi komersial pertama Asam Levulinat dimulai oleh A.E. Statey pada 1940-an. Lalu, pada 1953, Quaker Oats mengembangkan proses berkelanjutan untuk produksi Asam Levulinat. Selanjutnya, pada 1956 diidentifikasi sebagai bahan kimia platform dengan potensi tinggi. Kemudian, pada 2004 Departemen Energi AS (US DoE) mengidentifikasi Asam Levulinat sebagai salah satu dari 12 bahan kimia platform potensial dalam konsep biorefinery.

Banyak konsep untuk produksi Asam Levulinat secara komersial didasarkan pada teknologi asam kuat. Proses dilakukan secara terus menerus pada tekanan dan suhu tinggi.

Lignoselulosa adalah bahan awal yang murah. Asam levulinat dipisahkan dari katalis asam mineral dengan ekstraksi. Asam levulinat dimurnikan dengan destilasi. GF Biochemicals memulai produksi komersial Asam Levulinat pada 2015 dengan skala produksi 2.000 MT/a di Caserta, Italia.

Asam Levulinat digunakan sebagai prekursor untuk obat-obatan, plasticizer, dan berbagai zat aditif lainnya. Asam Levulinat juga digunakan di industri kosmetik dan parfum. Senyawa ini juga mulai banyak digunakan di industri rokok untuk mengurangi kadang nikotin dalam tembakau.

Dengan Asam Levulinat, industri akan semakin ramah lingkungan karena mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Sehingga, pada 2017, GF Biochemicals mengumumkan membangun penyulingan bioteknologi selulosa di AS, bekerja sama dengan perusahaan bioteknologi lokal, American Process.

"Ini akan membantu mengurangi pencemaran udara. Asam ini memiliki potensi kuat karena bereaksi persis seperti minyak bumi, yang berarti dapat menggantikan bahan bakar minyak," ucap Flamini.

Flamini juga merupakan bagian dari tim yang menciptakan BIOCIRCE (Bioeconomy in the Circular economy). Itu gelar master pertama di Eropa yang didedikasikan untuk mempromosikan pendidikan bioekonomi. Ini diluncurkan bekerja sama dengan salah satu bank di Italia, Intesa Sanpaolo, Novamont (produsen bioplastik), dan University of Napoli

Selain itu, Flamini juga ikut mendirikan The BioJournal. Itu adalah majalah digital pertama di dunia yang didedikasikan sepenuhnya untuk dunia bioteknologi dan kelestarian lingkungan, yang dikelola oleh jurnalis lingkungan Italia, Mario Bonaccorso.

"Saya sangat beruntung. Untuk operasi sehari-hari kami memiliki tim yang sangat kuat di lapangan yang berasal dari perusahaan kimia yang sangat besar. Kami punya 80 pegawai yang langsung bekerja untuk kami dan 400 lainnya terkait dengan perusahaan kami. Saya lebih fokus pada strategi perusahaan," ungkap Flamini.

Lalu, berapa keuntungan Flamini dan perusahaannya? Analis menyebut angka 20 miliar pounds! Bahkan, ada yang menyatakan Flamini dan partnernya seperti Mark Zuckerberg, Jack Ma, atau Bill Gates di dunia bioteknologi.

Menurut Forbes, kekayaan bersih Mathieu Flamini adalah USD 14 miliar atau sekitar Rp 198,7 triliun. Wow.

"Saya ingin memperjelas kepada anda bahwa prioritas saya adalah sepakbola. Saya ingin dikenal sebagai pesepakbola karena itu cita-cita saya sejak kecil. Tapi, seperti yang bisa anda bayangkan, seorang pemain sepakbola boleh memiliki minat lain di luar lapangan bukan? Dan, minat saya adalah bioekonomi," pungkas pria kelahiran Marseille, 7 Maret 1984, itu.


Sumber :

https://www.libero.id/detail/3364/bukan-messi-ronaldo-neymar-mathieu-flamini-pesepakbola-terkaya-di-bumi.html

https://www.bioeconomy.fi/bioeconomy-more-than-circular-economy/

Tuesday, November 24, 2020

Pemimpin Dunia Dorong Penerapan Circular Economy

Pemimpin Dunia Harus Dorong Penerapan Circular Economy

27 Agu 2019, 10:46 WIB

Siam Cement Group (SCG) menggelar forum Sustainable Development (SD) Symposium yang ke 10 kali pada pekan ini. Mengangkat tema “Circular Economy, Collaboration for Action", pertemuan ini bertujuan mendorong kolaborasi dan jejaring antara sektor bisnis, publik, dan pemerintah untuk mendukung pembangunan keberlanjutan yang lebih baik bagi dunia.

Perwakilan dari Indonesia bersama dengan jajaran otoritas global, para pemimpin bisnis dan eksekutif dari berbagai negara, diundang untuk bertukar pikiran dan pengalaman seputar Circular Economy.

“Kami berusaha membangun kesadaran para pemimpin dunia untuk melihat dampak model industri ekstraktif take-make-waste. Ekonomi sirkular bertujuan untuk mendefinisikan kembali pertumbuhan, dan fokus pada manfaat positif yang lebih luas. Banyak perusahaan, telah mulai menerapkan konsep ekonomi sirkular untuk produk mereka," kata Presiden dan CEO SCG Roongrote Rangsiyopash di Bangkok, seperti ditulis Selasa (26/8/2019).


Baru 2 Kota di Indonesia yang Terapkan Circular Economy

Ia pun mencontohkan, Timberland telah bermitra dengan Omni United, produsen ban, untuk memproduksi sepatu menggunakan ban daur ulang. Sepatu merupakan salah satu pengguna bahan baku karet terbesar.

Roongrote mengatakan, tahun ini pihaknya berfokus mendorong sektor bisnis menerapkan konsep Circular Economy. “berharap para pemimpin akan mendapatkan perspektif baru dan terinspirasi untuk mengadopsi konsep ini,” ujarnya

Indonesia ambil bagian dalam sesi diskusi panel yang menyoroti kerjasama untuk ekonomi sirkular dalam SD Symposium 10 Years. Indonesia seperti halnya Thailand sebagai bagian dari ASEAN, memiliki karakteristik yang mirip dan menantang.

“SCG memandang ekonomi sirkular kunci untuk mencapai tujuan perkembangan berkelanjutan. Oleh karena itu, kami mengundang para pemimpin pemimpin, termasuk dari Indonesia, untuk sama-sama angkat bicara dalam forum SD Symposium. Kami percaya penerapan konsep ekonomi sirkular mampu meningkatkan daya saing,” ungkap Roongrote.

Jika penghematan sumber daya, lanjut Roongrote, bisa dipraktikkan sesuai konsep ekonomi sirkular, maka secara efektif dapat membantu mengurangi biaya operasi perusahaan. “Lebih luas lagi, Circular Economy juga dapat membantu mengurangi emisi karbon, yang mengarah pada peningkatan dan membuat kehidupan yang lebih baik,” ia menandaskan.


Sumber :

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4047826/pemimpin-dunia-harus-dorong-penerapan-circular-economy